Sekarang saya lagi suka mendengarkan lagu milik Payung Teduh kalau nggak salah. Hhehehe..
Nah itu mereka punya lagu bagi saya sangatlah keren, apalagi lagu yang menceritakan tentang penderitaan yang dialami gunung dan kesenangan yang dialami oleh lautan. Tak peduli apapun judulnya, yang pasti saya sangat suka. InsyaAllah kalau nggak salah liriknya seperti ini.
"Tak pernah aku mendengar gunung menangis,
biarpun Matahari, membakar tubuhnya..
Dan tak pernah aku melihat laut tertawa,
biarpun kesejukan bersama tariannya.."
Kira-kira begitu lagunya, seperti menceritakan bagaimana manusia sangat tidak peduli akan gunung yang begitu menderita. Teriknya matahari yang tak pernah bosan meneragi dan membakar selururh tubuhnya, namun ia ia tak pernah menangis. Bagaimana dengan kita???
kemudian di Laut, banyak orang menikmati suara ombak dan angin kerasnya, namun sampah masih bertebaran dan ombak dipermainkan. Bagaimana dengan kita??
Seandainya waktu kalian untuk menjadi manusia habis, mau jadi apakah kalian?? Gunung yang besar dan banyak manusia yang merasakan kedinginan disana, namun ternyata sang gunung dengan rela memberikan manusia-manusia konyol itu kesejukan guna menutupi penderitaannya menghadap sang mentari yang panas dan kejam. Apakah akan menjadi laut?? tempat yang menyenangkan, namun ia selalu dipermainkan dan dinodai dengan sampah-sampah dan airnya yang mensucikan semua hewan laut dipermainkan.
Masihkah kalian bosan menjadi manusia???
Nah itu mereka punya lagu bagi saya sangatlah keren, apalagi lagu yang menceritakan tentang penderitaan yang dialami gunung dan kesenangan yang dialami oleh lautan. Tak peduli apapun judulnya, yang pasti saya sangat suka. InsyaAllah kalau nggak salah liriknya seperti ini.
"Tak pernah aku mendengar gunung menangis,
biarpun Matahari, membakar tubuhnya..
Dan tak pernah aku melihat laut tertawa,
biarpun kesejukan bersama tariannya.."
Kira-kira begitu lagunya, seperti menceritakan bagaimana manusia sangat tidak peduli akan gunung yang begitu menderita. Teriknya matahari yang tak pernah bosan meneragi dan membakar selururh tubuhnya, namun ia ia tak pernah menangis. Bagaimana dengan kita???
kemudian di Laut, banyak orang menikmati suara ombak dan angin kerasnya, namun sampah masih bertebaran dan ombak dipermainkan. Bagaimana dengan kita??
Seandainya waktu kalian untuk menjadi manusia habis, mau jadi apakah kalian?? Gunung yang besar dan banyak manusia yang merasakan kedinginan disana, namun ternyata sang gunung dengan rela memberikan manusia-manusia konyol itu kesejukan guna menutupi penderitaannya menghadap sang mentari yang panas dan kejam. Apakah akan menjadi laut?? tempat yang menyenangkan, namun ia selalu dipermainkan dan dinodai dengan sampah-sampah dan airnya yang mensucikan semua hewan laut dipermainkan.
Masihkah kalian bosan menjadi manusia???
Komentar
Posting Komentar